Penulis : Ismail Mobiliu
LAYAKNYA surga dipenghujung utara Sulwesi. Indah akan ribuan spot wisata serta pasir putih membentang luas sayangnya tidak dijamah pemiliknya.
Dengan menempuh perjalanan laut sekitar 2 jam melalui pelabuhan Boroko, kru para pencari kabar menjumpai ratusan bahkan ribuan spot wisata disepanjang perjalanan. Bebatuan yang menjulang, pasir putih yang menghampar meski terumbu karangnya terlihat hancur berantakan akibat ulah si bajak laut tukan bom ikan. Sayang seribu sayang, keindahan pesisir laut hanya disimpan rapih tidak dijamah. ”Ini luar biasa sayangnya tidak terkelola dengan baik. Coba kalau Dinas Pariwisatanya jelih pasti banyak menghasilkan PAD dari sektor pariwisata,” keluh situkang kritik Ramdan Buhang.
Dua jam menempuh perjalanan laut, akhirnya kami sampai di pulau Bongkil. Pulau kecil terluar diujung Sulawesi Utara yang hanya dihuni Opo dan para pembajak terumbu karang. Dengan berbagai tantangan akhirnya kami menepi juga. Meski lutut si tukang kritik harus mengeluarkan dara karena memang tidak gampang menempu pulau bongkil. ”Ini adalah surganya orang Bolmut sayang dilupakan,” lagi-lagi si tukang kritik Rendi mengeluh.
Puing-puing terumbu karang, kotoran kambing, ribuan botol air mineral eksporan dari Negeri jiran menjemput kami. ”Sungguh indah tapi tak terkelola. Kemana mereka Dinas Pariwisata Bolmut ? kenapa ini tidak dikelola dengan baik, padahal Bolmut kaya akan spot tapi semuanya tidur dan hanya jalan-jalan tanpa hasil ,” si tukang kritik Adris mulai mengeluh.
Sunset menghiasi keindahan Pulau Bongkil kamipun beranjak pulang dengan membawah sedikit oleh-oleh dari pulaunya puing terumbu karang dan kaya akan botol mineral. Lima buah biya kerang kami bawah pulang hendak dijadikan asbak mungkin itu sedikit oleh-oleh kami dan saran buat Pemkab Bolmut. ”Pulau Bongkil sangat indah dan luar biasa bisa menhasilkan trilyunan PAD asalkan Kadisnya berkompeten,” pesan si Eki yang kesal melihat ulah Dinas Pariwisata.
Pukul 20 lebih 10 menit kami berlabuh dipelabuhan Boroko dengan sedikit keroncongan kami bergegas ke warung mas joko depan kantor Samsat Boroko. Uang 100 ribu dari hamba Allah menjadi modal menghilangkan rasa lapar yang sejak tadi kami rasakan. (***)
INFO TOTABUAN | Pusat Informasi Totabuan Pusat Informasi Totabuan