Di Penghujung September, biasanya kita akan disuguhi narasi-narasi tentang pergolakan PKI di Indonesia, namun kali ini saya lebih tertarik untuk membicarakan gerakan ini dalam skala kecil, desa.
Di sudut sunyi Kecamatan Bolangitang, Kabupaten Bolaang Mongondow (kala itu Tahun 1965), terhampar sebuah desa kecil bernama Tote. Mungkin di benak pembaca terlintas pertanyaan: benarkah di tempat yang begitu tenang ini, di tahun 1960-an, pernah bergemuruh pusaran gerakan Partai Komunis Indonesia?
Bayangkanlah suasana desa pada masa itu. Jauh dari hiruk-pikuk kota, jalanan masih berupa tanah yang dipanasi matahari, rumah-rumah berdiri berderet di antara pepohonan, dan kehidupan berjalan dalam kesederhanaan yang damai.
Namun di balik ketenangan itu, tersimpan lembaran sejarah yang tak tertulis dalam buku-buku teks, melainkan hidup dalam cerita lisan yang diwariskan dari mulut ke mulut.
Salah satu peninggalan cerita itu tersimpan dalam ingatan saya, yang saya dengar langsung dari Almarhum paman saya, S.S. Mokoolang, sosok yang pernah menjabat sebagai Sangadi (Kepala Desa) Tote, pada kurun waktu 2000 hingga 2005.
Dari cerita beliau, masa lalu perlahan terungkap kembali.
Pada tahun 1965, saat badai politik tengah menggelandang di negeri ini, yang menjabat sebagai Sangadi di Desa Tote adalah kakek kami sendiri, Syuaib Baba Mokoolang ( S.B. Mokoolang).
Sebelum peristiwa G30S/PKI memuncak, benih-benih gerakan itu pun telah menyusup ke desa-desa yang jauh. Agen-agen tersebar mendatangi masyarakat, membentuk organisasi binaan: Pemuda Rakyat, Gerwani, hingga Barisan Tani Indonesia.
Para petani dijanjikan tanah yang dibagikan, alat pertanian yang akan datang, harapan-harapan manis yang ternyata hanyalah umpan belaka.
Namun Sangadi S.B. Mokoolang bukanlah orang yang mudah dibutakan. Beliau sejak lama telah menjadi bagian dari Gerakan Pemuda Ansor, badan otonom Nahdlatul Ulama. Di dadanya telah tertanam keyakinan: komunis adalah musuh agama, dan ajarannya tidak sejalan dengan kepercayaan yang dianut masyarakat setempat.
Semangat anti-komunis itu pun tak sendirian berkobar. Di wilayah Kaidipang Besar (cikal bakal Kabupaten Bolaang Mongondow Utara), Gerakan Pemuda Ansor aktif bergerak di bawah kepemimpinan tokoh NU yang disegani, M. Lauma (Mai Sulja) warga asal Desa Langi. Beliau dengan gagah berani menyuarakan kebenaran, bahkan memimpin pawai besar bersama unsur-unsur ABRI pasca peristiwa Oktober 1965, membersihkan sisa-sisa pengaruh gerakan tersebut.
Sebelum badai itu pecah, Sangadi S.B. Mokoolang telah berdiri di depan warga, mewanti-wanti, terutama keluarga terdekatnya, agar tidak terbuai janji-janji manis. PKI kala itu membangun organ tandingan untuk melawan kekuatan masyarakat beragama: Pemuda Rakyat melawan Pemuda Ansor, Lekra berhadapan dengan Lesbumi, dan Gerwani berupaya menggantikan peran Muslimat NU.
Strategi yang disertai gelombang propaganda yang kuat, seakan tak kenal lelah menggema.
Namun keteguhan Sangadi S.B..Mokoolang saat itu membuahkan hasil. Masyarakat Desa Tote tetap berdiri kokoh di jalannya. Tidak banyak yang terjerat. Dan jika ada yang sempat tergiur, mereka hanyalah jiwa-jiwa yang tidak memahami sepenuhnya apa yang sebenarnya diusung, mereka tetaplah warga yang taat beragama, yang sekilas saja terpesona oleh harapan palsu.
MEREKA HANYA KORBAN.
Tulisan ini bukanlah bermaksud membuka kembali luka masa lalu. Semata-mata, ini adalah upaya menjaga memori kolektif. Bahwa di desa kecil yang jauh dari pusat pemerintahan, di ujung Sulawesi Utara, pernah ada sosok sederhana yang berdiri tegak menjaga kepercayaan dan kedamaian warganya. Sejarah itu bukan sekadar catatan kota besar, ia hidup, juga di hati warga desa Tote.
26 September 2026.
(Ridwan)
INFO TOTABUAN | Pusat Informasi Totabuan Pusat Informasi Totabuan