Kamis , 27 Agustus 2026

“Syarat Sarjana Bukan Segalanya?” Sains Tech Tunjukkan Cara Baru Rekrut Karyawan

Kotamobagu – Di tengah tren rekrutmen yang kian kompetitif dan penuh syarat tinggi seperti “IPK minimal 3, pengalaman 5 tahun, usia maksimal 25 tahun,” sebuah perusahaan teknologi lokal bernama Sains Tech justru muncul dengan gaya rekrutmen yang seolah menantang arus utama: tanpa syarat gelar sarjana, tanpa ribet, tapi tetap profesional.

 

Lewat kampanye kreatif berjudul “Gabung Deng Torang”, Sains Tech secara terbuka mengundang anak muda — bahkan yang belum berijazah tinggi — untuk melamar. Syaratnya? Bisa kerja, suka belajar, dan tidak baper.

Poster digital rekrutmen mereka yang beredar luas di media sosial bukan hanya tampil berani, tapi juga menggunakan bahasa lokal khas Kotamobagu dan Manado. Hal ini menjadi simbol bahwa Sains Tech tidak hanya merekrut, tapi juga merangkul budaya dan komunitas lokal.

Rekrutmen Gaya Baru, Tapi Serius

Meski dibungkus dengan gaya santai dan jenaka — menyebut syarat seperti “hafal nama file lebih dari nama mantan” dan “pengalaman ba hitung doi warong” — isi sebenarnya justru sangat esensial:
Skill, karakter, dan kemampuan kerja lebih utama dibanding latar pendidikan.

Sebagian pihak memuji pendekatan ini sebagai langkah inklusif dan progresif, terlebih di era digital saat banyak anak muda punya kemampuan teknis namun tidak punya gelar formal.

“Ini bukan soal lucu-lucuan. Justru pendekatan seperti ini membuka peluang bagi mereka yang sebenarnya kompeten, tapi sering kalah start karena kalah ijazah,” ujar salah satu pelamar yang merasa terwakili.

Namun di sisi lain, beberapa kalangan juga mempertanyakan apakah pendekatan seperti ini bisa menjamin kualitas SDM yang profesional. Menanggapi itu, pihak Sains Tech menegaskan bahwa rekrutmen tetap dilakukan dengan seleksi kompetensi yang serius, meski pengemasan awalnya tidak konvensional.

Tren Baru atau Gimmick?

Rekrutmen ala Sains Tech ini menjadi refleksi atas realita dunia kerja saat ini: gelar akademik bukan lagi satu-satunya tiket sukses. Terlebih dengan menjamurnya talenta digital, freelance, dan pekerja kreatif dari berbagai latar belakang.

Pertanyaannya sekarang:
Apakah model ini akan diikuti perusahaan lain? Atau justru akan jadi tren baru rekrutmen lokal yang lebih membumi?

Yang jelas, di tengah kesulitan mencari kerja dengan “syarat dewa”, Sains Tech hadir sebagai angin segar. Gaya boleh lucu, tapi pesan yang disampaikan sangat serius:

“Yang penting bisa kerja, bukan sekadar bisa pamer gelar.”

Bagikan Berita ini