INFOTOTABUAN.COM,BOLMUT – Morengka yang Hilang : Tentang Manusia Bintauna dan Teknologi oleh,Ersyad Mamonto PUSSAKABi-ISC (Pusat Studi Sejarah Adat dan Kebudayaan Bintauna-Inomasa Study Club
Morengka adalah seni penanda hubungan harmonis dalam relasi gender perempuan dan laki-laki pada sebuah hajat di Bintauna. Morengka merupakan kegiatan para bapak saat menumbuk padi yang akan dijadikan beras di lesung. Saat sudah terlihat padi berubah jadi beras, para ibu mengambilnya untuk ditapis dari ampasnya. Ketika itulah para bapak memukulkan lesung dengan alat pukulnya, yang membuat lesung berirama.
Kemudian para bapak morengka : sambil menari menjauhi lesung, tetapi masih membuat irama tertentu. Namun saat itu, pemukul lesung telah dipukulkan ke tanah. Saat para ibu selesai menapis beras yang masih berbalut kulit padi tadi (belum benar-benar bersih), ditaruhlah kembali di lesung. Kesempatan itu, dijadikan para bapak untuk kembali ke lesung dan menumbuknya–sampai padi tersebut telah benar-benar menjadi beras.
Seiring berkembangnya zaman dan teknologi, morengka sudah sangat jarang atau bahkan tidak ditemukan lagi. Faktor utama adalah hadirnya alat penggiling padi menjadi beras.
Teknologi memangkas kerja manusia menjadi lebih cepat. Hal-hal kolektif yang sifatnya produktif lambat laun akan tergerus seperti morengka. Di saat inilah teknologi tidak mempunyai posisi tawar.
“Kalian ingin lambat atau cepat?”
Begitulah kira-kira ilustrasi pertanyaan yang diajukan teknologi. Waktu adalah kunci bagi teknologi dan manusia yang menggunakannya. Saat sebuah kegiatan dilakukan dengan cepat, tentu waktu juga dipangkas. Membuat kita merasa senang, karena banyak ketersediaan waktu untuk melalukan kegiatan produktif lainnya. Namun, selain waktu yang dipangkas, nilai (kolektifitas), dan hubungan harmonis relasi gender juga mengalami hal yang sama.
Perdebatan waktu yang disediakan antara teknologi vis a vis morengka adalah tentang penciptaan ruang. Ruang yang disediakan teknologi adalah produktifitas menciptakan kapital, sedangkan morengka adalah seni, kolektifitas dan relasi gender.
Di antara pilihan itulah, diktum mengikuti zaman sebenarnya adalah penegasan tentang memilih mana yang “penting”. Adanya lembaga adat dan sejenisnya merupaka usaha manusia Bintauna untuk memilih kepentingan nilai “dulu” mengarungi arus teknologi.
Mengenai morengka atau tradisi lainnya yang punya posisi serupa, sebenarnya zaman hendak memanggil untuk melakukan pembaharuan. Namun, tidak hendak secara absolut untuk menghapusnya–contohnya pelaksanaan adat.
Alternatif yang bisa kita pilih adalah menjadikan morengka sebagai seni pertunjukan. Dalam hitung-hitungan, memang secara fungsi telah digantikan mesin penggiling padi. Tetapi, tradisi masih akan tetap ada, meskipun berada pada posisi seni pertunjukan.
Jika morengka hadir dalam wajah seni sendiri, maka akan menjadi penanda bahwa “kita yang dulu” akan tetap bertahan mengarungi arus teknologi yang menciptakan ruang berbeda.
Sudah selayaknya, ada pertukaran dari sebuah kemewahan (waktu) yang diciptakan teknologi. Manusia tidak selayaknya mencaci dan menyayangkan teknologi yang terlampau mendominasi kehidupan. Karena teknologi juga merupakan proses berkebudayaan yang menciptakan sarana pra sarana lain dengan bentuk berbeda dari sebelumnya.
Untuk itu yang dulu harus tetap ada. Saat morengka diinovasikan menjadi seni, hal itu bukanlah penanda bahwa kita mengingkari sesuatu yang luhur. Tapi, proses daya cipta sebagaimana pencerminan dari akar kata budaya itu sendiri, tidak berhenti pada zaman tertentu. Memang harus diakui ada beberapa hal yang dianggap telah finish. Namun, bukan berarti kita berhenti pada pengasihan jika teknologi terlampau mendominasi semua lini kehidupan yang dulu. Lagipula, bukankah inovasi adalah corak manusia yang adaptif.(ulasan/@#)
INFO TOTABUAN | Pusat Informasi Totabuan Pusat Informasi Totabuan