Memotret Gerakan Islam Puritan di Bolaang Mongondow Utara.

INFOTOTABUAN.COM, BOLMUT – Memotret Gerakan Islam Puritan di Bolaang Mongondow Utara. Oleh Ersyad Mamonto ,Himpunan Pemuda Al Khairaat (HPA) Kab. Bolaang Mongondow Utara

Satu tahun yang lalu saya pernah menerangkan dalam sebuah tulisan pendak di Facebook, yang menegaskan tentang kemunculan gerakan keagamaan terbilang baru bagi Bolang Mongondow Utara (Bolmut), yang berusaha muncul ke permukaan.

Jauh ke belakang, sekitar lima tahun yang lalu, saya pernah menuturkan hal yang sama dalam diskusi-diskusi terbatas. Saat itu (2015), saya melihat ada gerakan baru dalam lima atau sepuluh tahun lagi yang akan menentang tradisi Islam ahlu sunnahh wal jamaah (aswaja) di Bolmut dan masif. 

Gerakan ini adalah wahabisme atau salafi-wahabi. Setidaknya akan ada dua gelombang. Pertama, masyarakat pada umumnya yang terpengaruh dari TV, Sosmed, dan guru ngaji mereka  yang memang telah menganut paham ini semenjak di kampus. Kedua, para alumni kampus, yang saat di kampus telah mengenal atau masuk dalam organisasi keagamaan yang punya paham salafi-wahabi. Dan kemudian mereka ini yang menjadi biang penyebaran di Bolmut.

Gelombang pertama telah terjadi. Di Kecamatan Bintauna pada salah satu desa yang enggan untuk disebut, terjadi hal tersebut. Yaitu, saat peringatan maulid nabi Muhammad S.A.W dibidahkan, dengan cara menyebarkan selebaran.

Gelombang pertama ini bisa dibilang tidak terlalu penting, karena hanya berupa riak-riak. Namun, yang perlu diperhatikan adalah ini merupakan pintu pembuka bagi gelombang selanjtunya. Yaitu penanda kebereadaan (eksis). Sejauh ini juga, belum ada para aktor intelektual atau yang dianggap ustad oleh kaum salafi-wahabi Bolmut yang muncul ke permukaan.

Sedangkan gelombang kedua yaitu munculnya ke permukaan para alumni kampus-kampus yang berdekatan secara teritori dengan Bolmut. Ada beberapa alasan kenapa kelompok intelektual wahabi ini belum menampakan diri. Yaitu, kelompok ini masih terbilang sedikit atau belum memiliki pengorganisasian secara massif dan Bolmut yang belum terurbankan..

Sejatinya, puritan salafi-wahabi ini adalah fenomena perkotaan. Serupa dengan beruang kutub yang membutuhkan es, salafi-wahabi juga membutuhkan kondisi urban perkotaan untuk tumbuh subur. Hal ini karena urban adalah ruang yang lahir dari modernitas, sebagaimana watak modenitas yang menentang tadisionalisme, wahabi juga seperti itu dan merupakan produk dari kemodernan itu sendiri karena berkembang pesat pada abad ke 20.

Jika kondisi urban semisal perumahan-perumahan yang tidak terkoneksi antara satu dan lainnya seperti kondisi di desa, hal ini adalah lahan bagus untuk menyemai paham tersebut. Megingat, pedesaan yang sangat kental dengan hal yang tradisional akan sangat susah secara habitus bagi wahabisme bergerak karena menentang arus. Meskipun Bolmut belum terurbankan, tidak menutup kemungkinan wahabisme akan menentang tradisi apabila telah massif pengorganiasiannya.

Adanya perisitiwa dari kelompok kecil yang terbilang tidak mencapai satu persen ini, yaitu membidahkan perayaan maulid baru-baru ini di salah satu desa di Kecamatan Bintauna, dengan cara menyebarkan selebaran secara terang-terangan, adalah penanda. Jika dalam kuantitas saja gerakan ini kalah jauh dibanding Islam Bolmut yang mayoritas aswaja berani menentang amaliyahnya, maka bacaan pada gelombang kedua, tentu akan meimbulkan gesekan yang lebih besar lagi.

Bagikan Berita ini